Senin, 25 Mei 2015





Sukabumi,

Walikota Sukabumi H.Muraz didampingi  kadis perindkop dan ,kadis pertanian serta  kepala kantor  Kominfo, Gabril  inspeksi mendadak (sidak)  ke pasir pelita dan sukabumi mall .  dari hasil sidak tersebut tidak ditemukan adanya beras sintetis (biji plastic) yang kini rame dipasaran.

Upaya mengantisipasi   kondisi demikian para  pedagang beras dipasar pelita telah menggalang agar beras impor atau lainnya tidak masuk kekota sukabumi  dan selama ini   masyarakat kota dan kabupaten  sukabumi telah  mendengar informasi hal tersebut.
Menurut pengakuan  mereka bahwa para pedagang beras yang ada di pasr pelita selama ini tidak pernah menjual beras dari luar dan selalu beras lokal , namun pada prinsipnya “ kami akan sikap tanggap membantu pemerintah(Walikota red) untuk menganti sipasi  agar beras sintetis tidak masuk ke kota sukabumi.
Pada kesempatan sidak Walikota ,H. Muraz, SH MM Muraz  merasa  terharu dengan dibarengi rasa bangga atas kepedulian dan  jiwa kebersamaan mereka  dengan para pedagang lainnya ,bahkan informasi daging celengpun  tidak ada lagi beredar dipasar pelita “. Ujarnya


Sukabumi,
Melalui semangat kebersamaan dan keterpaduan secara personal  maupun  organisasi, baik ditingkat aparat dan masyarakat kelurahan Sindangsari Kecamatan  lembursitu kota sukabumi  siap tandang makalangan  mengikuti lomba kinerja kelurahan ditingkat provinsi jabar.
Kehadiran Tim Rechecking lomba kelurahan   di kota sukabumi tengah mencari juara nasional bukan mencari  juara provinsi , Optimisme Wakil Walikota , H. Achmad Fachmi, SAg,MMPd pada acara penerimaan rombongan  di ruang utama balaikota jumat (22/5)
 Tim Penilai terdiri unsur BPMPD (Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa) , Biro Hukum Setda dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat diterima secara resmi di ruang pertemuan Kelurahan Sindangsari Kecamatan lembursitu.
Wakil Walikota Sukabumi, H. Achmad Fahmi, S.Ag., M.M.Pd., mengemukakan, Komitmen pemerintah  kota sukabumi   menjadi  penyumbang   IPM   (Indeks Pembangunan Manusia) bagi provinsi  jawa barat  berada diatas rata-rata   jabar   yakni  berada pada point  75,55., dari aspek  pendidikan, kesehatan dan perdagangan.
Dipilihnya Kelurahan sindangsari sebagai perwakilan di jawa barat dan nasional “ ungkap H. Achmad Fachmi, SAg,MM.Pd , karena kemampuannya  untuk mengelola masyarakat telah teruji, sebagai karya nyata kelurahan sindangsari telah  mampu menghantarkan   Posyandu dan perpustakaannya tampil sebagai juara I ditingkat provinsi jabar.
Dalam kesempatan tersebut H. Achmad Fahmi, S.Ag., M.M.Pd. merasa terharu  dibarengi rasa bangga atas turun rembuknya Kodim 0607 yang secara teknis dilakukan oleh para Babinsa  dalam turut serta membenahi fasilitas umum bagi kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
 Ketua Tim Penilai Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa Barat ,  Ir. Bambang Sugianto, MM mengemukakan,   seiring dengan kemajuan  teknologi informasi dan komunikasi  bahwa kelurahan harus berbasis online, sebagai bagian utama  yang tidak terpisahkan secara komulatif dari sistem penilaian.

Upacara penerimaan dihiasi dengan lantunan lagu mars PKK yang dibawakan Ibu-ibu anggota tim penggerak PKK kelurahan dengan disaksikan ,  unsur Muspida, Sekretaris Daerah , para Asisten dan Staf Ahli,  Kepala OPD,  Camat dan Lurah, Jajaran Pengurus TP PKK dan DWP, Jajaran Pengurus LPM, Tokoh Masyarakat dan Alim Ulama/ dendayasa,SIp


Kamis, 14 Mei 2015

Sukabumi,
Bangsa yang baik adalah bangsa yang mampu menghargai para pendahulunya, tidak sedikit harta jiwa melayang dalam merebut alam kemerdekaan ini dari belenggu tangan penjajah demi kebahagiaan anak dan cucu- cucunya.

Hanya dengan bermodalkan sarana prasarana yang cukup sederhana atau bambu runcing, namun berkat adanya persatuan dan kesatuan yang kokoh dilengkapi semangat juang yang tinggi, akhirnya  mereka mampu mengusir para penjajah dari bumi pertiwi yang kita cintai ini.

Asisten Administrasi, H. Kostaman, MM atas Sekretaris daerah Kota sukabumi  pada kesempatan apel pagi jumat, 16 mei 2015 di halaman balaikota dengan dihadiri unsur Kepala dinas, Kepala Bagian dan bidang serta segenap karyawan-wati dilingkungan sekretariat.

Oleh karena demikian   Mari kita isi alam kemerdekaan ini dengan sebaik mungkin dan gantungkanlah cita-citamu setinggi langit demi menggapai hari esok yang lebih elok, memiliki wawasan global dan  teknis operasional lokal , sesuai dengan peran dan  tugas masing-masing  secara personal maupun organisasi  (SKPD) , Namun  kita harus tetap waspada  jangan sampai rapuh atau mudah dipecah belah  oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melalui politik adu domba, baik dari sisi infrastruktur (partai politik) maupun sufrastruktur ( Aparatur Negara) jangan sampai terpecah belah.

Melalui peringatan Hari Kebangkitan nasional yang jatuh pada tanggal 20 mei 2015  mendatang kami mengajak kepada segenap karyawan – wati dilingkungan  pemerintah kota sukabumi untuk tetap waspada sekaligus mampu  bersama-sama  menjaga rasa  persatuan dan kesatuan, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa,   demi keutuhan NKRI./dendayasa,SIp





Selasa, 12 Mei 2015

Sukabumi,

Dalam upaya meningkatkan disiplin pegawai  negeri sipil (PNS) dilingkungan Pemerintah kota sukabumi  diterapkan absensi  melalui sistem stik jari yang dilakukan menjelang apel pagi dan sore  sebagai media control terhadap  tingkat kehadiran pegawai.

Hal tersebut dikemukakan Sektretaris daerah , DR.HMN.Hanafie Zein pada kesempatan apel pagi rabu, 13 mei 2015 di halaman balaikota dengan dihadiri para asisten, Staf akhli, Kepala Dinas, unsur Kepala bagian, Kepala bidang dan segenap karyawan/ wati dilingkungan sekretariat,   DPKAD dan Kominfo.

Sistem stik jari mulai diberlakukan  secara bertahap, dimulai dari Sekretariat, DPKAD dan Kominfo yang berada di kawasan sekretariat (balaikota), dilanjutkan ke seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sampai ke tingkat kecamatan dan kelurahan.

Selanjutnya mengenai sanksi bagi para PNS yang sering datang terlambat atau mangkir kerja akan dirumuskan  lebih lanjut, apakah melalui pemotongan uang makan (UM) atau hal hal lain yang dapat  mendorong PNS itu sendiri untuk dapat bekerja lebih baik , taat dan patuh terhadap  segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku terutama tentang disiplin PNS.

Pada kesempatan itu  pula  Sekotda mengharapkan kepada seluruh stafnya, terutama kepada stafnya yang masih muda   untuk berisi keras, cerdas dan semangat untuk dapat  meningkatkan pengetahuan serta wawasannya melalui status kependidikannya , baik S-1,  S-2 maupun S-3 dengan memaatkan peluang  beasiswa yang telah dipersiapkan oleh pemerintah melalui pihak lembaga  kementraian.  

“ Saya patut berbangga secara apresiatif   menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh staf   di semua SKPD  karena telah  mampu menampilkan  peran  pungsinya dengan baik  dan  terpadu, sehingga berbagai prestasi banyak diraih, baik ditingkat provinsi maupun nasional”ujarnya

Prestasi-prestasi yang telah diraih “ ungkap DR.HMN.Hanafie Zein “  meliputi  SAKIP ( Sistem Administrasi Kinerja Instansi Pemerintah)  atau yang kita kenal dengan LAKIP (Laporan Administrasi Kinerja Instansi Pemerintah), Lomba Sekolah Sehat (LSS), Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL), Kota Layak anak, Lomba Kelurahan, Adipura, Wahata Tata Nugraha (WTN) dan masih banyak prestasi-prestasi lain yang telah diraih selama ini, termasuk pembangunan Rumah Sakit baru type D di wilayah kecamatan lembursitu.

Menurut Sekotda juara bukan tujuan utama dalam setiap mengikuti kegiatan lomba, namun apabila tingkat keseriusan kita dalam memenuhi standarisasi kelayakan berbagai pasilitas pelayanan, selalu mendapat penghargaan dari pihak pemerintah pusat  ,  itu merupakan suatu hal yang lumrah  sebagai pemacu dan pemicu bagi pemerintah kota dan kabupaten.  

Selanjutnya DR.HMN. Hanafie Zein mengharapakan kepada seluruh SKPD  secara terpadu untuk  segera bergerak cepat sesuai peran dan pungsinya  menuju Kelurahan sindangsari, karena pada tanggal 22 mei 2015 kelurahan tersebut  akan mengikuti lomba kelurahan di tingkat provinsi.ujarnya ‘ Dendayasa,SIp


Selasa, 28 April 2015

Sukabumi,
Aparat Kelurahan Sindangsari Kecamatan Lembursitu kota Sukabumi,  kini tengah giat-giatnya  bebenah diri bersolek dengan  ditunjang  sepenuhnya oleh  segenap komponen masyarakat yang ada dan   Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dalam upaya menghadapi lomba kelurahan di tingkat wilayah bogor.
Salah satu bentuk upaya keras yang masih dalam proses pengerjaan  sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi akan segera dibangun WIFI    oleh SKPD terkait (  Kominfo), sebagai langkah strategis dalam memberikan kemudahan bagi warga setempat untuk dapat mengakses data atau informasi yang diperlukan.
 Kepala Kelurahan Sindangsari  Saefullah, SPd, mengemukakan bahwa  Visi kantor kelurahan sindangsari adalah terwujudnya sebagai kelurahan terdepan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mengoptimalkan sumberdaya manusia yang beriman dan bertaqwa.
Menurutnya Kelurahan Sindangsari secara administrative berada di wilayah  Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi  dengan luas wilayah  101,77 Ha terdiri , Luas Pemukiman     : 47,60 Ha , Persawahan    : 45 Ha Perkantoran   : 1,26 Ha,  Pemakaman  : 1,26 Ha dan prasarana umum lainnya : 6,11 Ha.
“Batas wilayah kelurahan sindangsari sebelah Utara      berbatasan dengan  Kelurahan Cikondang Kecamatan Citamiang sebelah Selatan      Kelurahan Cipanengah Kecamatan Lembursitu sebalah Timur        Kelurahan Sudajayahilir Kecamatan Baros sebelah Barat   Kelurahan Dayeuhluhur Kecamatan Warudoyong”.
Lebih lanjut dikemukakan Saefullah SPd, Jumlah Penduduk  kelurahan sindangsari ,  5.396 Jiwa Laki-laki     2.687 Jiwa  dan  Perempuan : 2.709 Jiwa dengan  jumlah kepala keluarga ( KK )  1.579 yang tersebar  di 6 RW dan  21 RT  dan sebagian besar  mata pencaharian penduduk  bertani.
“Lembaga Pendidikan formal  meliputi 3 play group ,  6 Taman kanak-kanak ,  2 SD, 1 SMP/sdrjt , dan 1 SMA/sdrjt , sedangkan Pendidikan Formal Keagamaan antara lain 4 Raudhatul atfhal, 1 ibtidaiyah, 1 Tsanawiyah   1 aliyah     2 ponses   ,1 MD     dan  4  TPQ” .          
Dikemukakannya Prasarana Air Bersih dan Sanitasi meliputi jumlah sumur gali 1.025 unit . mata air                                                    : 97 unit , sumur air rumah tangga  264 rumah MKCK umum   19 unit, jamban keluarga                                       954 kk dan kondisi saluran drainase/saluran pembuangan air limbah     690 unit,
Prasarana Irigasi  panjang saluran primer    2.500 m , saluran sekunder  : 6.000 m dan  panjang saluran tersier      : 4.500 m ,  jumlah pintu sadap  4 unit , jumlah pintu pembagi air    4 unit .jumlah masjid   7 buah  dan mushola    17 buah
Prasarana Dan Sarana Kesehatan,  Puskesmas pembantu   1 unit,  apotik  1 unit , posyandu                                           7 unit, rumha/kantor praktek dokter     1 unit, balai kesehatan ibu dan anak   1 unit,  dokter umum                              3 orang,  dokter spesialis lainnya    1 orang,  paramedis     5 orang, bidan   2 orang, dokter praktek                           3 orang  dan jumlah labolatorium kesehatan   1 uni .
Prasarana Dan Sarana Kebersihan, tempat pembuangan sementara (TPS)      8 lokasi,  jumlah gerobak sampah     10 unit, tong sampah    50 unit, satgas kebersihan  2 kelompok, anggota satgas kebersihan              4 orang  dan   pemulung  1 orang. ujarny a/dendayasa,SIp

Selasa, 27 Januari 2015




 

 Sukabumi,


 Ketua Dewan Pengurus Korpri Provinsi Jawa Barat, Prof. Dr. Ir. Drs. H.M. Guntoro, M.M melantik  Dewan Pengurus Korpri Kota Sukabumi Periode Tahun 2014-2019 , upacara pelantikan dilangsungkan di Gedung Korpri  Selasa, 27 Januari 2015 dengan   ditandai  penyerahan pataka kepada Ketua Dewan Pengurus Drs. H. Saleh Makbullah, M.Si.

Upacara pelantikan dihadiri  Walikota  selaku Penasehat  H. Mohamad Muraz, S.H., M.M., Wakil Walikota , H. Achmad Fahmi, S.Ag., M.M.Pd., unsur Muspida, Sekretaris Daerah  Dr. H.M.N. Hanafie Zain, M.Si., para Asisten dan Staf Ahli, para Kepala OPD , para Camat dan Lurah, serta undangan lainnya.

 Walikota H. Mohamad Muraz, S.H., M.M. dalam sambutannya  mengharapkan, agar momen pelantikan ini dapat dijadikan langkah awal  dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis organisasi disamping  berbagai langkah yang akan   dilaksanakan, sebagai upaya  perbaikan dan kemajuan Korpri kedepan.

“Dirikannya Korpri pada tanggal 29 November 1971 ,  sebagai salah satu wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia, khususnya dalam meningkatkan perjuangan dan pengabdian, serta kesetiaan terhadap cita-cita Perjuangan Bangsa dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang bersifat demokratis, mandiri, bebas, aktif, profesional, netral, produktif, dan bertanggungjawab”. 


Apabila dihitung sejak didirikannya “ungkap Walikota,  saat ini Korpri berusia 43 tahun lebih. Perjalanan waktu tersebut, bagi sebuah organisasi bukan perjalanan yang singkat. Dengan demikian, dalam perjalanannya, Korpri mengalami banyak peristiwa, yang patut dijadikan bahan renungan dan pelajaran, oleh segenap jajaran pengurus dan anggotanya. Maksud dan tujuannya, supaya organisasi Korpri ini, khususnya Korpri Kota Sukabumi, dapat lebih baik dan maju lagi, pada masa-masa yang akan datang.


 Winni Siti Alawiah, SPd
Guru Bimbel GO Sukabumi 

“Kurtilas bikin pusing! Lebih baik KTSP lagi”

“Kita sudah diklat kurikulum 2013. Lanjutkan sajalah!”

Dua pernyataan yang terlontar dari para guru. Kini pendidikan kita dihadapkan pada dua jalan. Jalan pendidikan yang dibuat bercabang namun tetap dengan tujuan yang sama.

Membicarakan kurikulum berarti mengaitkan pendidikan dengan perangkatnya. Kedudukan sentral bagi kurikulum dalam proses pendidikan. Dalam hal ini kurikulum berperan mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Tidak hanya bagi guru tetapi mencakup aktivitas belajar peserta didik di dalam kelas.

Berdasarkan pernyataan di atas, jelas bahwa adanya perdebatan. Tidak hanya dari para guru, peserta didik pun merasakan dampaknya.

Kurtilas atau kurikulum 2013 yang secara resmi diluncurkan 15 Juli 2013. Ternyata belum menjadi solusi tepat mengatasi pendidikan kita. Betapa kesenjangan pendidikan begitu terlihat. Kita bisa melihat sekolah-sekolah di daerah dengan di kota. Yang satu sudah dapat dikatakan ‘melek’ internet, sedangkan yang satu masih jauh dari jangkauan. Lalu sudah bisakah kurikulum 2013 diterapkan di Indonesia?.

Pemerintah menjawab dengan cara lain. Yakni pemberlakuan dua kurikulum. Kemendikbud melalui Dirjen Dikdas dan Dirjen Dikmen mengeluarkan surat peraturan bersama nomor:5496/C/KR/2014 dan nomor:7915/D/KP/014 tentang petunjuk teknis (Juknis) Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 pada Sekolah Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Juknis yang ditetapkan sejak 22 Desember 2014 tersebut mengategorikan; sekolah yang melaksanakan kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali menggunakan KTSP mulai semester kedua. Sementara itu, sekolah yang telah menjalankan kurikulum 2013 selama tiga semester tetap menggunakan kurikulum 2013.

Tentu saja bukan jawaban yang tepat untuk perdebatan yang terjadi. Dengan poligami kurikulum sebagai kebijakan tersebut, pemerintah belum dapat memecahkan masalah utama yang terjadi. Permasalahan kurikulum adalah permasalan pendidikan. Permasalahan pendidikan adalah permasalahan bersama.

Sama halnya dengan hukum poligami yang mengharuskan adil bagi keduanya. Maka pemerintahpun wajib adil membagi keduanya dengan segala fasilitas yang sesuai. Tidak bisa begitu saja membiarkan sekolah memilih kurikulum mana yang akan dipergunakan. Meskipun ada aturan sekolah yang melanjutkan kurtilas atau KTSP. Namun yang ada banyak sekolah tentu memilih KTSP yang lebih mudah pelaksanaanya.

Pada realisasinya, kesenjangan pun dialami para peserta didik. Mulai dari jam belajar yang berbeda, materi dan buku pelajaran, hingga isi raport. Lalu tolak ukur kemajuan pendidikan seperti apa yang akan dibuat untuk evaluasi kedua kurikulum tersebut? Ini jelas harus ada dan dibuat dengan serius. Jika pemerintah berani memberlakukan dua kurikulum maka pemerintah harus sudah siap dengan dua perangkat evaluasi kurikulum.

Namun kenyataanya, sudah adakah tindak lanjut untuk menengahi perbedaan kedua kurikulum tersebut?.

Menengahi Perbedaan dengan Mencontoh

Walaupun perbedaan keduanya amat jelas, namun sebenarnya terdapat kesamaan esensi. Dalam pendekatan ilmiah (saintific approach) misalnya, pada hakekatnya kedua kurikulum itu pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa yang mencari pengetahuan bukan menerima. Pendekatan ini memiliki esensi yang sama dengan pendekatan keterampilan proses (PKP).

Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak terealisasi di kelas. Mungkin pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu apabila guru tidak paham dan belum dapat menerapkannya dalam pembelajaran.

Memberikan pemahaman pada guru di Indonesia tidaklah mudah. Dengan luas wilayah, jumlah penduduk, dan ketidakmerataan teknologi hal tersebut menjadi sulit. Kendala-kendala harus dipersiapkan solusinya. Tidak bisa kita dengan mudah memberlakukan kurtilas yang jangka waktu diklatnya dengan pelaksanaanya begitu sempit. Memahamkan sebuah perangkat seperti kurikulum bukanlah perkara memberikan permen pada anak kecil.

Rumit memang apabila melulu dikaitkan dengan ketisiapan dan ketidakmampuan guru dan fasilitas (internet) yang ada. Namun serumit apapun, itulah yang harus kita hadapi bersama.

Dalam hal ini kita patut mencontoh Finlandia. Sistem kurikulum yang diterapkan negara tersebut selalu tetap/konsisten dan jarang sekali berganti. Perbedaan pertama yang amat mencolok. Di Indonesia bisa kita hitung sudah berapa kali kurikulum di ganti?.

Kebijakan dengan menggunakan kurikulum yang tetap itulah yang membuat pembelajaran disana konsisten dan semakin maju. Bayangkan saja, setiap kurikulum berganti, maka tidak hanya proses belajar yang berganti namun secara teknis pembuatan raport bagi para guru pun berganti.

Bijaknya, apabila kurikulum yang kita gunakan hanya satu dan itu bukan kurikulum baru. Atas dasar ketidakmerataan teknologi pun dapat menjadi salah satu indikator penting, bahwa penggunaan KTSP mungkin akan lebih memudahkan seluruh guru di berbagai wilayah Indonesia.

Fokus, konsisten, dan maksimal dalam mengiplementasikan satu kurikulum seperti yang diterapkan Finlandia adalah hal yang patut dicoba. Mencoba hal baik yang dilakukan negara maju bisa jadi membuat pendidikan kita maju sesuai contoh yang dilakukan.

Indonesia muda berarti belajar. Belajar berarti merealisasikan kurikulum. Jika kurikulum satu dan terbaik, maka Indonesia muda ada dalam sistem yang baik.