Rabu, 26 Maret 2014



SUKABUMI –
Pemerintah Kota Sukabumi melalui peran  DP-4  kini tengah gencar-gencarnya melakukan peremajaan tanaman bunga hias pada ruas-ruas jalan utama dan sebagai percontohan penanaman  diawali pada ruas jalan bhayangkara yang  dijadikan sebagai salah satu taman percontohan di kota sukabumi , melalui langkah peremajaan, seluruh tanaman yang ada pada ruas-ruas jalan utama dibenahi diganti  dengan tanaman yang baru,  upaya menambah nuansa ketertiban, kebersihan dan   keindahan  serta kenyamanan warga pribumi maupun pendatang.


Kepala DP-4 yang disampaikan Kepala Seksi Jalur Hijan Bidang Pertamanan pada Dinas Pengelolaan Sampah, Pertamanan dan Pemakaman (DPSPP) Deden Solihin ketika ditemui SKU. Aspirasi Rakyat ditengah-tengah kesibukanya dilapangan .


Peremajaan bunga tersebut menurut Deden Solihin guna   mendukung program Walikota, khususnya dalam mewujudkan Kota Sukabumi hijau dan indah , sekaligus sebagai kado ulang tahun 1 abad kota,  dengan harapan  baik warga pribumi maupun  pendatang berasa sejuk terntram, aman dan nyaman dalam menjalankan segala aktivitasnya. 


Penataan  taman tersebut  lanjut “ Deden Solihin akan dilakukan pada ruas-ruas jalan utama lainnya meliputi ,  Jalan Ahmad Yani, Otista, RA Kosasih serta  Jalan KH. Ahmad Sanusi dan yang jelas seluruh taman pada ruas-ruas jalan utama secara bertahap   akan segera dibenahi.


Melalui gerakan peremajaan taman  bunga ini diharapkan akan memiliki dampak positif sebagai langkah pentauladanan  terhadap segenap lapisan  masyarakat untuk melakukan hal yang serupa, demi  terciptanya Kota Sukabumi Sehat, Cerdas dan sejahtera/dens




Selasa, 25 Maret 2014




Sukabumi,

Dalam waktu dekat ini pemerintah kota sukabumi melalui bagian tata pemerintahan kini tengah gencar-gencarnya melakukan kegiatan pembebasan lahan seluas 3.323 m2 milik salah seorang warga baros bernama  Pupuk untuk menambah lahan yang telah ada, bagi pembangunan SMKN 5 di wilayah kelurahan Kecamatan baros dan pengadaan tanah jalan masuk Gedung Bappeda milik warga setempat Een  di Kelurahan Babakan Kecamatan cibeureum.

Menurut Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda, Iskandar, SIp, MT, bahwa    SKMN 5 akan dibangun diatas area 15.000 m2 sesuai dengan ketentuan dari pihak pemerintah pusat dan hingga saat ini Pemerintah kota Sukabumi  baru memiliki   9.000m2,  ditambah 3.323m2  (masih dalam proses), sehingga masih terdapat kekurangan lahan seluas  lebih kurang 2.677m2.

Berdasarkan hasil musyawarah yang dipimpin Sekretaris Daerah, DR. HMN. Hanafie Zein  yang  dilangsungkan rabu (26/3) 2014 di operation room setda dengan diikuti OPD terkait antara lain  DPPKAD, Dinas P dan K,  BPN, Bagian hukum,  para Camat dan Lurah serta kedua pemilik lahan, maka telah menghasilkan suatu kesepakatan yang akan   direalisasikan dalam waktu dekat ini.

Menurut Kepala DPPKAD, Dida Sembada, MSi, bahwa untuk pembayaran pembebasan lahan tersebut secara teknis  dilaksanakan oleh pemerintah kepada masing-masing  pemilik melalui  Bank Jabar Banten ( SP2D).

  Sekretaris Daerah , DR, HMN Hanafie Zein mengemukakan Pembangunan SMKN 5 kini telah menemui titik terang, namun Kepemilikan lahan harus jelas sesuai dengan lahan yang tersedia dan setelah terjadi transaksi tanah tersebut akan menjadi milik  Pemda serta secara administrative tercatat pada bagian asset,  pada intinya dalam  pengadaan tanah tersebut menggunakan prinsip efisiensi atau penghematan anggaran sesuai dengan DPA, namun tetap tidak merugikan para pemilik.  


Oleh : Dudung Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Manusia kritis dan pejuang kemerdekaan pada zaman kolonialisme Belanda disebut pemberontak atau ekstrimis. Pemerintah selalu alergi terhadap “pejuang” yang mengkritisi dan melawan kebijakannya.   Setiap zaman selalu melahirkan manusia-manusia kritis yang berseberangan dengan paradigma pemerintah.  Sebut saja Retno Listyarti, seorang guru SMAN 13 Jakarta yang sering berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Ia adalah guru “pemberontak” yang terus menyuarakan keadilan dalam dimensi pendidikan.

Ia pernah berseberangan dengan kepala dinas pendidikan Jakarta, menyuruh mundur mendiknas, melawan keputusan gubernur DKI Jakarta tentang tunjangan guru,   bahkan sampai bermasalah hukum dengan Akbar Tanjung karena buku pelajaran yang ditulisnya. Ia  mengkritisi berbagai dinamika  pendidikan mulai dari SKB 5 menteri, organisasi profesi, soal UN, RSBI, masalah MGMP, lemahnya militansi guru, pengangkatan kepala sekolah, politisasi profesi guru, kurikulum 2013 dll.

Ditengah pemberontakannya terhadap dunia pendidikan Iapun memiliki prestasi diantaranya adalah; Pemenang citi succes fund dari City Bank (2004); Penerima Award dalam bidang science dari Toray Foundation Japan (2004); Pemenang Go Green School dari Yayasan Kehati (2005); Penerima Award sebagai tokoh pendidikan dari PKS (2007); Juara 1 Lomba Karya Tulis “Kata Mutiara Bung Karno” dari PDIP (2010); Juara 1 Lomba Karya Tulis Lingkungan dari Pertamina (2011); Juara 1 Lomba Karya Tulis Konstitusi dari Mahkamah Konstitusi (2011) plus  Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. 

Munculnya sistem lelang jabatan kepala sekolah  membuat Ia berpeluang mengikuti seleksi yang sebelumnya tidak mungkin. Mengapa demikian? Karena menjadi kepala sekolah harus ada rekomendasi dari kepala sekolah sebelumnya. Tanda tangan kepala sekolah inilah yang menurut Retno Listyarti tidak terlalu penting karena dimungkinkan  ada unsur KKN. Tanda tangan dapat menjadi tanda “penutup” saldo dan manajemen gelap sebelumnya. Akhirnya Ia terpilih menjadi kepala sekolah hasil sistem lelang. Ini sebuah kesempatan bagi “ sang pemberontak” untuk memperbaiki pendidikan secara mikro di satuan pendidikannya dan secara makro di Indonesia. 

Ada beberapa pernyataan Retno Listyarti “Sang Pemberontak” sebelum Ia menjadi kepala sekolah tahun ini 2014 terhadap  eksistensi guru. Pernyataan  itu diantaranya adalah;  guru jarang (tidak) memiliki militansi untuk memperjuangkan idealisme pendidikan, lebih senang hanya  berdoa atau titip doa bukan terjun langsung kelapangan. Guru dengan organisasinya selama ini tidak mampu memiliki posisi tawar yang tinggi dan sederajat atas berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia.  Organisasi guru selama ini cenderung menjadi legitimasi atas berbagai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.

Selanjutnya Retno menyatakan, guru sebaiknya berani melawan ketidakadilan—berbagai diskriminasi dalam segala bentuk, guru harus mampu mengajak siswanya untuk berbagi keresahan akan kondisi negeri ini. Guru harus mampu mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan murid-muridnya. Guru adalah sebuah kekuatan raksasa untuk mengubah negeri ini, namun sayangnya para guru Indonesia merupakan raksasa yang tertidur sangat lelap —saking lelapnya sampai tidak terbangun meski memperoleh berbagai gangguan  berat apalagi ringan—, benar-benar terlelap hingga tak bergerak –tak melawan– meskipun  didiskriminasi, diintimidasi, bahkan ditindas. 
Guru cenderung menerima begitu saja perlakuan dari birokrasi pendidikan yang berkolaborasi dengan kekuasaan tanpa membantah, tanpa melawan dan tanpa memberontak. Karena dia (para guru) juga pengecut maka dia pun (para guru) tidak pernah mengajak muridnya untuk berani menegakan kebenaran dan keadilan, apalagi mengajak untuk menjadi pemberontak. Kondisi guru  Indonesia yang seperti ini,   tentu saja penghambat utama dalam mewujudkan  pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Retno bertanya, Apa kita akan menunggu  sampai terjadinya Revolusi  setelah keadaan Indonesia seperti di Libya, Mesir, Bahrain dan Yaman?  Di negara-negara tersebut, Pemerintah mengabaikan pendidikan, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi, tingginya pengangguran, dan tingginya angka penduduk yang buta aksara, serta tingginya angka kemiskinan.

Pernyataan Retno Listyarti di atas setidaknya menjadi sebuah “jabatan” tangan dari Retno agar para guru harus lebih kritis, meningkatkan kompetensi dan tidak diam dan hanya titip doa dalam  memperjuangkan sebuah idealisme. Guru adalah raksasa yang harus bangun memperbaiki kelemahan pendidikan negeri ini bukan sebaliknya, tidur ngorok dan susah dibangunkan. Guru jangan hanya bangun  ketika negeri ini sudah terlambat untuk diperbaiki. Komunitas guru harus menjadi pelopor pembawa perubahan bukan pengikut perubahan yang selalu diseting dari atasan. Guru harus kreatif dan agresif dalam menjawab tantangan perubahan untuk perbaikan bangsa secara makro.

Guru harus kuat, berani dan cerdas tentu saja dengan  mediasi kepala sekolah yang well educated dan well inspiration.  Semoga akan banyak Retno-Retno yang lain ditengah semakin beratnya tantangan pendidikan kedepan.  Guru adalah profesi yang paling harus disyukuri. Menurut Retno guru beruntung berada di sekolah karena guru punya pengalaman belajar yang dibayar. Bahkan dibayar tidak hanya dengan uang tapi lebih dengan pengetahuan, relasi dan  kedewasaan. Mendewasakan anak sekaligus mendewasakan diri sendiri. 

Guru harus beryukur karena Ia “terjebak” dalam profesi yang membuat Ia harus tampil sebagai seseorang yang dapat menjadi rujukan bagi orang lain dalam membangun intelektualitas dan moralitas.  Tanggung-jawab profesi sebagai guru akan menggiring mayoritas para guru untuk menjadi pribadi yang baik dan cerdas. Profesi guru zaman ini akan semakin dituntut adaptif dan profesional. Guru yang hanya semangat menerima salari sertifikasi tetapi tidak terlalu memperhatikan peningkatan kemampuan diri akan sangat bermasalah.

Guru yang selalu lebih cerdas dari muridnya akan selalu memuaskan muridnya, sebaliknya guru yang selalu kalah cerdas  dari muridnya akan membosankan muridnya. Semoga hadirnya para kepala sekolah yang berlatar belakang “pemberontak” akan mampu membangun komunitas para guru terutama yang ada di satuan pendidikan dapat tumbuh lebih baik. Kepala sekolah pemberontak nampaknya perlu diperbanyak dibanding kepala sekolah hasil loyalitas politik lokal.

Minggu, 23 Maret 2014

Oleh Winni Siti Alawiah
Guru Bimbel GO Sukabumi

“Cut!”
“Ganti adegan”
“Cut, cut. Bukan yang itu!”
“Sudah-sudah. Pending sampai kalian hafal skrip!”
Nada bicara yang meninggi. Sudah tak terbantahkan lagi perintahnya. Menggeser-geserkan topi jamurnya. Pertanda kenyamanannya sudah terusik.
“Gimana dong. Kalau dipending terus. Apa mungkin semua pemain bisa latihan maksimal. Karna waktunya tinggal dua hari lagi. Atau, kita ganti skrip dengan percakapan yang lebih singkat?”
“Tidak bisa begitu dong! Skrip tetap harus utuh. Pemain yang harus cerdas menyiasati”, satu alisnya terangkat.
“Em, ok baiklah”,satu tangannya memegangi kepala. Lalu menggeleng.
Memang sulit situasi yang dihadapi para pemain teater ini. Tinggal dua hari lagi pementasan akan dilakukan. Acara akbar yang terlalu mendadak untuk tidak diindahkan.
Lagi-lagi kesalahan terjadi. Ini baru adegan satu dari tujuh adegan dalam cerita. Idealisme seorang YSA alias Yudi Sofyan Anwar memlambat latihan. Sutradara dengan talenta yang unik membuat banyak dikenal orang dikalangan teater.
Dan lusa tepat pada perayaan seabad kota Sukabumi, talentanya dipertaruhkan. Sebuah pertunjukan singkat nan apik, pedas, namun santai selalu menjadi ciri khasnya.
Kini sebuah naskah tak populer diangkatnya. Sedikit aransemen pada percakapan tokoh utama wanita dan anaknya. Fokusnya tetap, apa yang harus tersampaikan pada penonton. Natural dan menyentuh.
“Belum! Cut!”
“Harus gimana sih? Ini udah puluhan kali adegan aku di cut terus. Kapan majunya?”
“Mau maju? Temukan arah hati Mayunda!”, tatapan mata Yudi menajam. Singkat namun dalam. Membuat Mona yang berperan sebagai tokoh Mayunda merasa begitu aneh, bingung, dan penasaran.
“Arah hati? Apa maksudnya? Baiklah. Jangan panggil aku Mona kalau aku tidak bisa menemukan arah hati Mayunda”.
Mona berjalan menuju meja bundar di samping kanan panggung latihan. Sebuah skrip setebal 89 halaman diambilnya. Dengan sedikit kesal, ia mulai membukanya.
“Bisakah aku dapatkan arah hati Mayunda disini? heh”, helaan nafas yang singkat. Dengan waktu yang singkat dirinya mencoba membaca-baca naskah hingga selesai. Waktu berlalu begitu cepat. Namun kerutan di keningnya menandakan, bahwa dia belum menemukan arah hati Mayunda itu.
“Hah, apa-apaan ini! Aku tidak mungkin kalah. Apa maksud dari arah hati Mayunda?”
Di kedua setelah judul, terdapat lembar pendeskripsian singkat setiap tokoh. Matanya tertuju lama pada deskripsi tokoh Mayunda.
Mayunda:
Wanita muda berusia 22 tahun. Memiliki sifat seperti bunga. Tawanya untuk pereda, diamnya untuk penghargaan pada adat ketimuran.
“Adat ketimuran?”, kedua alisnya hampir menyatu. Matanya memicing. Benaknya menjelajah.
Seketika pencarian di dunia maya dengan kata kunci ‘adat ketimuran’ dicarinya. Beberapa artikel dibaca berulang-ulang. Hingga salah satu wacana mengunci pandangannya. Tak lama, sebuah senyum terkulum muncul.
“Gengsi, berani, egois yang tinggi. Ya, aku mengerti itu”, beberapa kali mengangguk.
Malam itu pun Mona segera memberitahukan Yudi bahwa dia sudah menemukan arah hati Mayunda. Sejalan dengan semangatnya, Yudi segera mengajak seluruh pemain untuk melakukan latihan satu babak.
Adegan dengan bersetting taman kota, siang hari. Mona berjalan menuju ke kursi taman yang sudah diduduki seorang pria bercelana bahan dengan pentopel yang mengkilat.
“Lama menunggu?”, seulas senyum tersungging ke kanan. Matanya diedarkan ke segala arah.
“Ayo duduk dulu”
“Harus ya kita bicara di taman seramai ini?”, nada jenaka muncul seketika dari mulut Mona.
Pria yang duduk di kursi itu segera berdiri. Dan mengangguk cepat, mengajak Mayunda menuju keluar taman.
“Terima kasih”. Kini senyumnya mengembang ramah. Tatapan mata yang masih acuh.
“Kau bukan wanita sombong. Aku yakin itu. Tapi ada sesuatu dalam benakmu yang kau sembunyikan dari pandangan para pria. Betulkan?”
“Terlalu so tahu. Bukan disembunyikan tapi dikesampingkan. Supaya kamu terus berusaha membuatnya keluar natural.”
“Maksudmu?”
“Hanya ketulusanmu yang dapat mengundang sabar untuk menghadapinya. Karena yang kukesampingkan sangat hebat berkharisma. Kharisma bagi setiap wanita yang tetap bertahan dala adatnya”
“Aku sulit mencerna maksudmu sekarang. Tapi yang kupahami saat ini adalah egoismu bukanlah kesombongan semata”
“Ok. Cut!”, suara lantang nan pasti menghentikan percakapan Mayunda dan pria itu. Senyum nyata mengembang dari bibir Yudi. Matanya menatap lekat sosok Mona yang telah merasuk menjadi seorang Mayunda. Tokoh fiktif yang kini hidup dan berkata.
“Itu, itulah arah hati Mayunda. Beri tepuk tangan untuk Mona!”
Semua pemain dan para kru teater spontan bertepuk tangan. Sangat jarang seorang Yudi Sofyan Anwar memberikan pujian dan tepuk tangan pada pemain teater. Kecuali, pemain itu benar-benar berhasil menghayati perannya sebagai tokoh dalam cerita yang dipentaskan.
Mona pun tersenyum lega. Hati seketika diselubungi sengatan yang segera menjalar ke seluruh aliran darahnya. Seperti suntikan semangat. Dia semakin optimis, adegan kedua hingga akhir akan dilewatinya dengan tepat.
Setelah adegan pertama tuntas, Yudi menghampiri Mona.
“Bagaimana Mon? Apa yang kau tafsirkan dari sosok Mayunda?”
“Aku tidak bisa banyak berspekulasi. Karena yang baru aku pahami. Segala sumber ketidakpastian sikapnya hanya karena satu alasan”
“Apa itu?” Yudi semakin tertarik.
“Tembok yang menjulang tinggi dalam dirinya adalah adat wanita ketimuran yang masih dijunjungnya tinggi. Itulah sebabnya rasa egois dan mawas diri begitu lekat dalam setiap ucapannya”
“Tepat sekali. Kau berhasil menemukan arah hati Mayunda. Selamat Mon. Hidupkan Mayunda dalam pentas lusa”
Anggukan begitu pasti. Mona tak dapat lagi berkata-kata. Tangannya semakin erat memegang naskah.
Yudi dengan perlahan menuliskan sesuatu pada halaman kedua naskah.
23 Desember 2013
Pada Mona yang bersemayam dalam Mayunda;
Tantang apa yang bagimu sulit, karena semua tidak akan semudah yang dipikirkan akal. Adakalanya kau harus terpejam dan diam untuk memanggil Mayunda. Karena kekesalanmu adalah sepersen ego dalam hatinya.
YSA (Yudi Sofyan Anwar), dalam semesta yang ringan.