Senin, 17 Juni 2013

  Sukabumi,
 Setiap tanggal 17, bangsa Indonesia melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Hari Kesadaran Nasional dan tentunya upacara tersebut  bukan hanya sekedar  kegiatan seremonial tanpa makna, akan tetapi merupakan salah satu kegiatan penting, dalam  upaya menyadarkan seluruh bangsa Indonesia, untuk  mengingat  terhadap landasan penting empat pilar kebangsaan, yang harus dipedomani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Walikota Sukabumi, H. Mohamad Muraz, SH, MM pada Upacara Pengibaran Bendera Hari Kesadaran Nasional,yang   dirangkai dengan  Hari Satuan Polisi Pamong Praja  Ke-63, Hari Lingkungan Hidup Se Dunia serta Pelepasan Kontingen Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi dalam mengikuti Temu Karya Relawan PMI Ke-5 Tingkat Nasional Tahun 2013, di Bendungan Selorejo, Ngantang, Malang, Jawa Timur..

Upacara tersebut ditandai dengan penandatangan  MoU Tentang Pelaksanaan Program Perumusan dan Pengintegrasian Strategi Ketahanan Kota Terhadap Dampak Perubahan Iklim. Antara

 

Pemerintah Kota Sukabumi dengan  Direktur Eksekutif APEKSI, Dr. Sarimun Hadisaputra, M.Si. Pada kesempatan itu  Walikota menyerahkan Piagam Penghargaan, Tropy, Tabungan dan Uang Kadeudeuh, kepada juara 1, 2 dan 3 Dokter Kecil (Dokcil) Putera dan Puteri, juara 1, 2 dan 3 Kader Kesehatan Remaja (KKR) Tingkat SMP dan SMA, serta juara umum Jambore Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Tingkat Kota Sukabumi Tahun 2013, Kecamatan Citamiang.



 Ditegaskan H. Mohamd Muraz,, SH MM ,  Semua bangsa Indonesia harus mengakui, bahwa pasca gelombang reformasi yang berlangsung lebih dari satu dasa warsa ke belakang, semua bangsa Indonesia disibukan dengan euforia demokrasi, kendati secara substantif cenderung belum mampu dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasarnya. Bahkan sebagian bangsa Indonesia, mulai amnesia terhadap pilar-pilar penting kebangsaan, yang menjadi dasar dan pilihan awal bangsa Indonesia, yang senantiasa dipedomani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya, sebagian bangsa Indonesia dalam melakukan dan berbicara demokrasi, terkadang berperilaku tanpa makna dan etika, serta tanpa disadari telah menjadi tirani memaksakan kehendak, dengan mengabaikan hak-hak minoritas yang dianggap tidak berdaya”.
  Walikota mengajak kepada segenap elemen bangsa , agar lebih dewasa
dalam berdemokrasi, serta lebih memahami substansi dan prinsip-prinsip dasarnya, termasuk dalam menegakan kembali landasan penting 4 pilar kebangsaan. , sikap primordial yang lebih menonjolkan kepentingan-kepentingan sesaat harus  dihindari, apalagi mengekspresikan pendapat dengan cara-cara yang tidak beradab.  segenap elemen bangsa Indonesia, sudah saatnya berjuang dengan visi yang sama, dalam bingkai nasionalisme kebangsaan.





 
















0 komentar :

Posting Komentar