Senin, 09 Desember 2013



 PENDEKAR atau Kesatria perempuan dari istana dengan gigih dan gagah mempertahankan keutuhan keluarganya dari kalangan pemberontak. Karena adanya pesan gaib, ia terpaksa meninggalkan istana mengembara dan bersemedi. Bersamaan dengan berakhirnya masa semedinya, Ia menaburkan banyak kerikil yang konon kerikil itu Batu Kinyang.
                 Meski bukan jawara utama, Khaira harus mengakui keunggulan peserta lomba Bercerita daerah lain. Tapi menurutnya dengan tampil didepan para Juri dan undangan di Jawa Barat, pesan dan promosi tentang Batu Kinyang yang terkenal itu tersampaikan.
Kaka sapaan khas untuk Khaira saat di rumah, mulai diketahui rekan-rekan sebayanya. “Kaka saat di Bandung itu bertepatan dengan Peringatan Gebyar Buku dan Hari Baca Sedunia. Semua keluarga besar mendukung Kaka ikut lomba itu.”

Murid Kelas 4/a SDN. Dewi Sartika Cipta Bina Mandiri [CBM], Cikole, Kota Sukabumi yang satu ini, memiliki riwayat “Bercerita” sejak dari Neneknya hingga Mamanya. “Mereka masing-masing punya cerita yang tak sama hebohnya. Tapi Cerita nenek masih terheboh.”

Legenda Batu Kinyang, ungkap Khaira bersumber dari sebuah kawasan yang terletak antara Kecamatan Baros, Kotga Sukabumi dan Kec. Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Kawasan itu menurut berbagai sumber, kata Khaira hingga kini dikenal produksen batu alam yaitu Kinyang.
“Ada yang sudah direkayasa menjadi batu cincin, perhiasan kalung dan anting-anting. Dan peminatnya tak kurang juga dari luar Jawa hingga mancanagara. Itu yang Khaira dengar dan Khaira baca. Akhirnya didukung Bunda Hj. Arbiatun, tajuk ceritanya Batu Kinyang,” papar Khaira.
Di Jawa Barat menurut Ia jelas kalah pendukung sedang dari Kota Sukabumi tak sebanyak sporternya Bandung. “Tapi saya tak gentar, kalau sudah begitu terbayang wajah Mama dan Nenek. Semangat Khaira bangkit lagi dan percaya dirinya menebal.” Imbuh sang juara.

Khaira seperndpat dengan rekan-rerkannya termasuk saran para guru disekolahnya. “Kemenangan itu bukan segalanya. TapI menjadi pemenang sama dengan mendapat modal melangkah ke jenjang lebih kedepan lagi. Itu yang Khaira dengar…” ucapnya.

Yang Ia peroleh selama ini kata murid SD yang penyuka nasi goreng apalagi yang menggorengnya Mamanya. “Mendengar kisah-kisah dan dongeng-dongeng baik dari Mama demikian juga dari Nenek. Itu juga pelajaran yang Khaira jadi pegangan nantinya.”

“Sekali lagi yang selama ini semakin percaya diri dan yakin mendongeng itu sesuatu yang baik untuk Saya. Semuanya didapat dari Bunda Hj. Arbiatun juga saran dan nasihat Mama serta Nenek yang selalu mendongeng yang seru-seru,” ungkap Khaira yang germar bubur ayam itu.

Khaira menyadari benar siapa saja orang-orang yang menaruh harapan padanya untuk selalu tampil percaya diri. “Bunda Hj. Arbiatun dan semuanya tak pernah bosan mengajak dan mengingatkan Khaira selalu menatap kedepan. Belajar dan belajar serta membaca.”

Murid Kelas IV yang belum lama dinobatkan sebagai Juara II Bercerita. Berketetapan hati juara itu bukan tujuan akhir. “Saya faham maksudnya, tapi mengisahkan kembali tentang Batu Kinyang didepan para juri dan anak-anak pilihan di Jawa Barat. Itu yang Khaira sangat bangga.” Setelah memperbaiki posisi hijabnya Khaira pamitan. Mentari siang itu terasa ramah  di ubun-ubun. Halaman SDN. Dewi Sartika CBM riuh dengan suara anak laki-laki bermain bola. [HS2SMI].-

1 komentar :

  1. Pemda Kodya Sukabumi diharapkan lebih aktif melakukan pembinaan dan peningkatan prestasi di dunia pendidikan Sekolah Dasar, sesuai dengan tugas dan fungsinya. Agar lahir tunas bangsa yang berprestasi Nasional atau Internasional.

    BalasHapus