Senin, 09 Desember 2013




Sukabumi, 
 
SEDIKITNYA 450 siswa/wi Kelas 1 SMA Negeri 1, Kota Sukabumi sepakat sejak berakhirnya Ospek saat akan dimulainya tahun ajaran baru. Menjadikan Ikat Kepala atau Totopong kerap disebut Teregos. Sebagai aksesoris hari Sabtu pamungkas ditetapkan menjadi hari budaya.

                “Titik mula munculnya gagasan itu selama  pemantauan Ospek berlangsung. Sungguh tidak ekonomis kalau topi kertas yang cepat rusak itu tidak segera digantikan dengan bahan yang lebih baik lagi. Sejumlah guru terkait sepekat untuk menggantinya dengan teregos,” ungkap juru bicara SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, Ade Fathurahman.

                Kalangan guru terkait, tak hanya berfihak kepada siswa kaum Adam saja. Kalangan kaum Kartini pun mendapatkan pehatian khusus pula. “Nah untuk kaum Kartini Kami sepakat untuk menganjurkan bando atau bondu. Bondu itu bisa dipadu-padankan dengan hijab.”

                Secarik kain lurik berwarna kecoklatan berbentuk segi tiga itu yang sering disebut Ikat Kepala [Teregos] semenjak Sabtu 5 bulan silam sudah akrab dikepala kalangan Siswa lelaki Kelas 1 di SMAN 1. Sedangkan lurik selebar 5 CM sepanjang 50 CM sudah terbiasa menghiasi mahkota anak-anak perempuannya.

                Bagimana tidak tergugah kalangan siswa Kelas 1 ingin selalu setiap hari itu hari Sabtu. Karena hari Sabtu untuk mereka adalah saat-saat jaitidiri Kelas mereka meraih prestise. Menurut Ade Fathurahman kalangan guru terkait atau Kepala Sekolah mengumumkan kelas mana yang kompak berteregos ria.

                “Jadi hari Senin di penghujung bulan, ada upacara pengumuman kelas mana yang kompak berteregos ria atau kalangan siswinya berbondu ria. Kami baru mampu membagikan selembar piagam untuk kelas berperilaku Nyunda itu,” papar Jubir SMAN 1, Sabtu pamungkas November.

                Ade Fathurahman menyebutkan, hingga kini kalangan siswa khususnya para siswa Kelas X atau Kelas l baik itu lelaki atau perempuannya. “Sudah tahu kalau di tatar Pasundan ini sedikitnya terdapat 20 jenis atau nama teregos selain Parengkos Jengkol dan Barambang Semplak.”

                “Kami ya… termasuk saya pribadi yakin. Semoga tidak ada komplin dari fihak mana pun tentang adanya mahkota hiasan Kepala pada siswa dan siswi Kelas 1 itu. Dibanding dengan uang jajan mereka harga teregos yang kini mudah diperoleh, tidak memberatkan,” ujarnya.  

                Juru bicara SMA Negeri 1 Kota sukabumi, Ade Fathurahman berpendapat, “Kearifan local yang mencoba diterapkan demi pembentukan karakter siswa itu. Pada saatnya kedepan nanti akan menjadi jatidiri SMA tertua di Kota Sukabumi ini.

0 komentar :

Posting Komentar