Senin, 09 Desember 2013


 Dudung Koswara, M.Pd
 Sukabumi,


            Cendikiawan muda Aceng Jaelani   menyatakan, dunia ini adalah realitas tabung ajal. Semua manusia yang ada dipermukaan bulatan bumi ini  hakekatnya sedang menunggu ajal menjemput.  Ajal itu pasti namun amalan seseorang belum pasti terhimpun dengan baik. Hidup yang sementara ini sebaiknya dimanfaatkan dengan penuh kebaikan. Ketika kematian itu pasti menjemput kita maka yakinkan  dengan pasti bahwa kita cukup amal kebaikan.


            Ungkapan bijak lain menyatakan , tidaklah penting berapa lama kita hidup   namun yang jauh lebih penting adalah seberapa  banyak kita menghirup nafas kebahagian dalam hidup.  Seberapa banyak aktifitas  yang bermanfaat dan membuat kita, sekitar kita dan keluarga kita memetik bahagia. Kebahagiaan yang ditopang rasa syukur yang baik  akan “mengabaikan” waktu lamanya hidup.


            Kematian itu pasti  namun kebahagiaan itu yang tidak pasti.  Bahagia itu butuh proses, mati itu tidak identik dengan proses. Hidup yang diberikan Tuhan adalah sebuah kesempatan untuk memaknai, menikmati dan berbuat terbaik untuk kehidupan yang lainnya. Tuhan bukan  “sesuatu” yang kejam dan tak mengenal ampun.  Tuhan pengasih dan penyayang.  Tuhan tidak identik dengan pemberi azab dan pemusnah kebahagiaan. Tuhan adalah penumbuh, pemelihara benih-benih cinta yang mengangkat derajat kemanusiaan manusia. Bersama Tuhan kita bahagia, bersama Tuhan kita sukses, bersama Tuhan kita kembali.


            Prof Dr HM Rasjidi mengatakan, “Hidup  dari rahmat Tuhan, mencari rahmat Tuhan dan kembali pada rahmat Tuhan”. Sekali lagi hidup adalah siklus indah yang dibingkai oleh nurullah. Hidup penuh energi  Tuhan yang melekat dalam syaraf dan darah kita. Bersama Tuhan kita tak bermasalah, bersama Tuhan kita berkah. Jauh dari Tuhan kita payah, jauh dari Tuhan kita sumber masalah.


            Sungguh indah sebenarnya hidup ini. Tuhan siapkan segalanya dan Tuhan pelihara segalanya. Bahkan tubuh kita ini Tuhanlah yang terus menjaga dan melindunginya. Dalam ajaran agama yang kita  pahami, kita (manusia) adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna dan paling disayanginya. Setiap saat bahkan tidak ada saat yang lepas dari energi kasihnya.


            Pada saat kita tertidur Tuhan tetap menjaga helaan nafas kita, pada saat tertidur Tuhan mengedarkan darah kita, pada saat tertidur Tuhan istirahatkan otak kita, pada saat kita terluka Tuhan menyembuhkannya.  Tuhan telah mempersiapkan segalanya bagi kita, tinggal kita mau berproses  menjemput anugrahnya.  Bahkan bukankah manusia diciptakan Tuhan setelah  segalanya di muka bumi ini diciptakan? Artinya Tuhan telah memfasilitasi segala keperluan manusia. Dalam ayat-ayat kauniyah (geologi dan acheologi) secara faktual jelas bahwa Tuhan mempersipakan segalanya sebelum manusia ini diciptakan-Nya.


            Masalah kematian sebenarnya adalah masalah pemebelajaran paling “ekstrim” terhadap manusia. Mengapa demikian? Karena kematian akan memberikan pembelajaran terhadap kesombongan manusia yang terkadang ingin hidup abadi. Orang yang beriman saja  pasti ingin hidup bahagia dan abadi. Apalagi orang yang menapikan Tuahannya. Maka tanpa kematian bagi  manusia yang lalim __apalagi bila Ia memegang kekuasaan__ dapat mendatangkan bencana kemanusiaan.


            Kematian bagi manusia yang lalim dan pembawa bencana adalah  anugrah bagi kehidupan yang lain. Sebaliknya kematian  bagi manusia yang soleh dan penuh manfaat bagi kehidupan manusia yang lain adalah pembelajaran bijak yang adiluhung.  Segalanya menjadi pembelajaran tidak hanya yang tertuang dalam ayat quraniyah melainkan dalam ayat kauniyah juga. Ayat-ayat “realitas” menjadi penguat pemahaman kita pada idelaitas kehidupan yang semestinya. 


            “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34). Firman Tuhan ini menjelaskan pada kita bahwa ajal akan menjemput semua manusia dan tidak ada yang mampu merubah “jadwal” kematian kita, sekalipun memundurkannya. Jelaslah bagi kita bahwa ajal seseorang adalah sebuah misteri yang pasti. Misteri, kita tidak tahu kapan akan dijemput. Pasti, karena semuanya akan mendapatkan kematiannya.


            Allah sangat mencintai manusia dan Ia melahirkan kita, memberi kehidupan pada kita dan “memanggil” kita kembali pada-Nya. Ini sebuah siklus rahmat dari yang maha cinta. Siklus kehidupan ini  bergerak terasa cepat, sayang seandainya terlalu banyak perbuatan buruk yang kita lakukan.  Sebaiknya kita mawas diri dan terus meningkatkan semangat hidup dengan taburan manfaat pada alam sekitar.


            Semua manusia berpotensi melakuan berbagai hal termasuk perbuatan  keburukan (dosa) dan perbuatan yang baik (amal).  Hidup kita berada  diantara tantangan-tantangan yang menggoda dan penuh cobaan. Bukankah seorang Akil Mochtar, Rudi Rubiandini, Luthfi Hasan Ikhsan dan Ahmad Fatanah dulunya orang baik-baik? Mereka adalah orang pintar dan muslim yang baik pada awalnya?


            Perjalanan hidup terkadang membawa seseorang (kita) menjadi  semakin mulia atau menjadi semakin terhina. Kemampuan menimbang, memilih dan menentukan jalan mana yang kita tempuh banyak ditentukan oleh sejauhmana kesadaran kita. Ungkapan bijak menyatakan, sadar tahu segala, kurang sadar banyak yang lupa dan tak sadar lupa segalanya. Sadar, terkadang sadar dan tak pernah sadar adalah bagian dari “wajah” manusia.


            Sungguh keberuntungan itu tidak ditentukan oleh jabatan, harta, tahta dan wanita. Keberuntungan itu lebih pada sejauhmana kita berbuat penuh manfaat pada kehidupan dengan membawa kepuasan bathin.  Kepuasan bathin adalah dimensi spiritualiatas. Dimensi spiritualitas itu menurut penulis lebih dekat pada dimensi Tuhan. Jadi kebahagiaan itu terletak pada dimensi spiritulitas bukan pada dimensi materialitas. Materialitas itu identik dengan mahluk. Sementara spiritualitas itu identik dengan kedekatan pada pencipta, Tuhan yang maha kasih.


            Mungkin  dimensi spiritualitas itu dalam agama Buda identik dengan dimensi Moksa.  Suatu realitas yang sudah tidak tergoda lagi oleh nafsu keduniawiaan yang murah dan sebenarnya maya. Dimensi Moksa dalam agama Buda adalah dimensi transisi menuju surga. Sebagai manusia biasa kita sebaiknya memahami kehidupan lebih baik setiap harinya. Semakin kita memahami hidup maka  kita akan merasakan indahnya hidup. Semakin kita merasakan indahnya hidup yang ditopang rasa syukur maka kita akan semakin mempertumbuh spiritualitas kita.


            Setidaknya setiap hari bertumbuh lebih baik walaupun sedikit. Mari kita maknai hidup, nikmati hidup dan cintai pemberi kehidupan. Hidup penuh makna, hidup penuh nikmat dan saling mencintai dengan sesama dan Pencipta akan lebih baik. Semoga keterbatasan dan kebodohan kita tidak menjadikan kita nampak bodoh dihadapan Tuhan untuk merangkul dan memeluk rahmat-Nya. Tuhan I love you. God I love life and want for your love.



           


0 komentar :

Posting Komentar