Selasa, 25 Maret 2014



Oleh : Dudung Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Manusia kritis dan pejuang kemerdekaan pada zaman kolonialisme Belanda disebut pemberontak atau ekstrimis. Pemerintah selalu alergi terhadap “pejuang” yang mengkritisi dan melawan kebijakannya.   Setiap zaman selalu melahirkan manusia-manusia kritis yang berseberangan dengan paradigma pemerintah.  Sebut saja Retno Listyarti, seorang guru SMAN 13 Jakarta yang sering berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Ia adalah guru “pemberontak” yang terus menyuarakan keadilan dalam dimensi pendidikan.

Ia pernah berseberangan dengan kepala dinas pendidikan Jakarta, menyuruh mundur mendiknas, melawan keputusan gubernur DKI Jakarta tentang tunjangan guru,   bahkan sampai bermasalah hukum dengan Akbar Tanjung karena buku pelajaran yang ditulisnya. Ia  mengkritisi berbagai dinamika  pendidikan mulai dari SKB 5 menteri, organisasi profesi, soal UN, RSBI, masalah MGMP, lemahnya militansi guru, pengangkatan kepala sekolah, politisasi profesi guru, kurikulum 2013 dll.

Ditengah pemberontakannya terhadap dunia pendidikan Iapun memiliki prestasi diantaranya adalah; Pemenang citi succes fund dari City Bank (2004); Penerima Award dalam bidang science dari Toray Foundation Japan (2004); Pemenang Go Green School dari Yayasan Kehati (2005); Penerima Award sebagai tokoh pendidikan dari PKS (2007); Juara 1 Lomba Karya Tulis “Kata Mutiara Bung Karno” dari PDIP (2010); Juara 1 Lomba Karya Tulis Lingkungan dari Pertamina (2011); Juara 1 Lomba Karya Tulis Konstitusi dari Mahkamah Konstitusi (2011) plus  Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah. 

Munculnya sistem lelang jabatan kepala sekolah  membuat Ia berpeluang mengikuti seleksi yang sebelumnya tidak mungkin. Mengapa demikian? Karena menjadi kepala sekolah harus ada rekomendasi dari kepala sekolah sebelumnya. Tanda tangan kepala sekolah inilah yang menurut Retno Listyarti tidak terlalu penting karena dimungkinkan  ada unsur KKN. Tanda tangan dapat menjadi tanda “penutup” saldo dan manajemen gelap sebelumnya. Akhirnya Ia terpilih menjadi kepala sekolah hasil sistem lelang. Ini sebuah kesempatan bagi “ sang pemberontak” untuk memperbaiki pendidikan secara mikro di satuan pendidikannya dan secara makro di Indonesia. 

Ada beberapa pernyataan Retno Listyarti “Sang Pemberontak” sebelum Ia menjadi kepala sekolah tahun ini 2014 terhadap  eksistensi guru. Pernyataan  itu diantaranya adalah;  guru jarang (tidak) memiliki militansi untuk memperjuangkan idealisme pendidikan, lebih senang hanya  berdoa atau titip doa bukan terjun langsung kelapangan. Guru dengan organisasinya selama ini tidak mampu memiliki posisi tawar yang tinggi dan sederajat atas berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia.  Organisasi guru selama ini cenderung menjadi legitimasi atas berbagai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.

Selanjutnya Retno menyatakan, guru sebaiknya berani melawan ketidakadilan—berbagai diskriminasi dalam segala bentuk, guru harus mampu mengajak siswanya untuk berbagi keresahan akan kondisi negeri ini. Guru harus mampu mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan murid-muridnya. Guru adalah sebuah kekuatan raksasa untuk mengubah negeri ini, namun sayangnya para guru Indonesia merupakan raksasa yang tertidur sangat lelap —saking lelapnya sampai tidak terbangun meski memperoleh berbagai gangguan  berat apalagi ringan—, benar-benar terlelap hingga tak bergerak –tak melawan– meskipun  didiskriminasi, diintimidasi, bahkan ditindas. 
Guru cenderung menerima begitu saja perlakuan dari birokrasi pendidikan yang berkolaborasi dengan kekuasaan tanpa membantah, tanpa melawan dan tanpa memberontak. Karena dia (para guru) juga pengecut maka dia pun (para guru) tidak pernah mengajak muridnya untuk berani menegakan kebenaran dan keadilan, apalagi mengajak untuk menjadi pemberontak. Kondisi guru  Indonesia yang seperti ini,   tentu saja penghambat utama dalam mewujudkan  pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Retno bertanya, Apa kita akan menunggu  sampai terjadinya Revolusi  setelah keadaan Indonesia seperti di Libya, Mesir, Bahrain dan Yaman?  Di negara-negara tersebut, Pemerintah mengabaikan pendidikan, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi, tingginya pengangguran, dan tingginya angka penduduk yang buta aksara, serta tingginya angka kemiskinan.

Pernyataan Retno Listyarti di atas setidaknya menjadi sebuah “jabatan” tangan dari Retno agar para guru harus lebih kritis, meningkatkan kompetensi dan tidak diam dan hanya titip doa dalam  memperjuangkan sebuah idealisme. Guru adalah raksasa yang harus bangun memperbaiki kelemahan pendidikan negeri ini bukan sebaliknya, tidur ngorok dan susah dibangunkan. Guru jangan hanya bangun  ketika negeri ini sudah terlambat untuk diperbaiki. Komunitas guru harus menjadi pelopor pembawa perubahan bukan pengikut perubahan yang selalu diseting dari atasan. Guru harus kreatif dan agresif dalam menjawab tantangan perubahan untuk perbaikan bangsa secara makro.

Guru harus kuat, berani dan cerdas tentu saja dengan  mediasi kepala sekolah yang well educated dan well inspiration.  Semoga akan banyak Retno-Retno yang lain ditengah semakin beratnya tantangan pendidikan kedepan.  Guru adalah profesi yang paling harus disyukuri. Menurut Retno guru beruntung berada di sekolah karena guru punya pengalaman belajar yang dibayar. Bahkan dibayar tidak hanya dengan uang tapi lebih dengan pengetahuan, relasi dan  kedewasaan. Mendewasakan anak sekaligus mendewasakan diri sendiri. 

Guru harus beryukur karena Ia “terjebak” dalam profesi yang membuat Ia harus tampil sebagai seseorang yang dapat menjadi rujukan bagi orang lain dalam membangun intelektualitas dan moralitas.  Tanggung-jawab profesi sebagai guru akan menggiring mayoritas para guru untuk menjadi pribadi yang baik dan cerdas. Profesi guru zaman ini akan semakin dituntut adaptif dan profesional. Guru yang hanya semangat menerima salari sertifikasi tetapi tidak terlalu memperhatikan peningkatan kemampuan diri akan sangat bermasalah.

Guru yang selalu lebih cerdas dari muridnya akan selalu memuaskan muridnya, sebaliknya guru yang selalu kalah cerdas  dari muridnya akan membosankan muridnya. Semoga hadirnya para kepala sekolah yang berlatar belakang “pemberontak” akan mampu membangun komunitas para guru terutama yang ada di satuan pendidikan dapat tumbuh lebih baik. Kepala sekolah pemberontak nampaknya perlu diperbanyak dibanding kepala sekolah hasil loyalitas politik lokal.

0 komentar :

Posting Komentar