Senin, 19 September 2011

Sukabumi, SENTANAonline.com
PESATNYA pertumbuhan pembangunan di wilayah Kota Sukabumi berdampak pada luas lahan pertanian. Lahan yang tadinya digunakan untuk sawah, beralih fungsi menjadi bangunan. Sehingga mengakibatkan semakin menyusutnya luas pertanian,Hal itu berdampak pada hasil produksi pertanian, khususnya padi.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Sukabumi drh. Ate Rahmat,M.Si mengatakan, dari 48 ribu meter luas wilayah Kota Sukabumi,  luas areal persawahan hanya sekitar 1.800 hektar. Luas tersebut semakin hari semakin menyusut seiring bertambahnya pembangunan, khususnya perumahan. “Penyusutan ini tidak bisa dihindari karena konsekwensi pertumbuhan kota,”ujarnya di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Diungkapkan, dari lahan sawah seluas itu, hanya mampu menghasilkan sebanyak sekitar 15 ribu ton beras per tahun. Atau rata-rata produksi gabah kering sekitar  6.1 ton per hektar. Sedangkan kebutuhan beras  untuk kota yang berpenduduk sebanyak 180 ribu jiwa itu, sekitar 33 ribu ton per tahun. “Lebih dari 50 persen beras di datangkan dari luar daerah,”katanya.
Dengan luas persawahan yang sempit, Kota Sukabumi tidak memungkinkan untuk berswasembada beras.  Namun, kata Ate, sebagai kota jasa dan perdagangan, hal itu bukan menjadi kendala. “Setiap tahun, persediaan beras di Kota Sukabumi mencapai 70 ribu ton.  Kebutuhan hanya sekitar 33 ribu ton, sisanya dijual ke daerah lain. Ini kenapa Kota Sukabumi tidak kekurangan persediaan beras,”ujarnya. 
Meski demikian, katanya, bukan berarti lahan pertanian dibiarkan begitu saja menyusut. Agar petani padi bias tetap menjalankan usahanya, lahan persawahan sedapat mungkin dipertahankan. Selain itu, agar  kebutuhan beras tidak terus meningkat, dia menghimbau masyarakat tidak hanya tergantung pada nasi. “Harus dilakukan diversifikasi konsumsi makanan. Jangan hanya beras, tapi bias jenis lain yang kandungan karbohodratnya sama,”katanya.
Terjadinya penurunan hasil produksi padi, katanya juga dipengaruhi musim. Jika musim kemarau, air yang dipergunakan untuk mengaliri areal persawahan akan berkurang, sehingga pertumbuhan padi menjadi tidak optimal bahkan bias mati.Hasil produksi padi menurun. “Pada musim kemarau harus dilakukan pengalihan tanaman, dari padi menjadi palawija yang lebih sedikit membutuhkan air,”katanya.
Untuk itu, pihaknya akan mengusulkan bantuan bibit palawija ke pemerintah pusat pada tahun depan, untuk mengantisipasi musim kemarau berikutnya.”Ini untuk meringankan beban petani. Mudah-mudahan terwujud,” harapnya.(NIF)

0 komentar :

Posting Komentar