Selasa, 13 September 2011


Wanita Tangguh Pencetak Generasi Hebat di Dunia

                          Oleh : Winni Siti Alawiah (0906903)

         Pernakah terpikir oleh kita satu sosok yang dengan berat dan sulitnya Ia mengandung dan melahirkan kita ke dunia ini? Ingatkah kita ketika jemarinya mengusap halus kepala kita, ketika kita bayi? Masikah kita ingat berapa banyak tetes air mata bahagianya ketika Ia melihat kita dapat berjalan? Ia adalah Ibu… yang dengan lembut mengawal kita menuju dunia, dengan jemarinya ia curahkan kasihnya. Air mata dan senyumnya yang segarkan jiwa berikan motivasi terbesar dalam kisi hidup setiap anak di dunia.
Ibu….ibu…ibu….Takkan pernah ada seorang anak tanpa seorang ibu. Sebuah pemikiran hasil logika, tentu saja sesuai dengan kenyataan bahwa seorang ibulah yang dapat melahirkan seorang anak dari rahimnya.

         Ibu, pencetak generasi sejak dini, tidaklah bisa digantikan oleh siapapun. Bahkan oleh sekolah tarbaik dan termahal sekalipun. Jika dikatakan keluarga memiliki peran strategis dalam proses pendidikan anak, bahkan bagi umat, maka peran ibulah yang mampu memberikan konstribusi besar bagi pendidikan anak sejak dini.

          Sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Pasalnya, mendidik anak bukanlah baru dimulai ketika anak masuk usia sekolah, namun sudah dimulai sejak anak usia pra sekolah, bahkan saat masih ada dalam kandungan.

          Pengasuhan dan pemeliharaan anak bagi ibu merupakan proses pendidikan berkelanjutan. Sekolah paling awal bagi setiap insan adalah ibunya. Guru pertama yang mengajarkan nama-nama, sikap, budi pekerti dan perilaku luhur lainnya adalah ibunya jua.

          Maka pengasuhan anak adalah representasi dari ekspresi ide-ide orang tuanya. Kalau kita mau tilik bagaimana orang-orang besar tumbuh dan berkembang, maka akan kita lihat bahwa peran ibu sangat besar.

          Sebagai contoh seorang Thomas Alfa Edison sang penemu listrik hanya mengenyam pendidikan formal 3 bulan saja. Saat itu gurunya tidak sanggup mendidiknya karena dianggap ia sangat bodoh. Namun sang ibu tidak mempercayainya.

          Berbekal keuletan, kegigihan dan kasih sayangnya ia didik sendiri anaknya. Ibunya selalu mendampingi dan memotivasi belajar Edison. Hasilnya pada umur 10 tahun Edison telah memiliki laboratorium sendiri. Edison pun memiliki semangat juang tinggi.

          Ia terpaksa jualan koran untuk membiayai penelitian-penelitiannya. Hari ini kita menikmati hasil perjuangan penelitiannya yaitu listrik yang selalu kita nikmati tiap saat.

          Kemudian Imam Syafi’I seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar di dunia islam. Saat ibunya hamil, telah ditinggal mati suaminya. Sehingga dia menjadi single parent, merawat, membesarkan dan mendidik putranya. Usia 7 tahun Syafi'i kecil telah hafal Al-Qur'an 30 juz. Untuk itu ibunya mendatangkan guru-guru untuk mengajarkan berbagai ilmu agama.

          Walaupun ia harus bekerja keras untuk membiayai semua keperluan belajar anaknya.
          Maka jelas peran seorang ibu sebagai pencetak generasi dunia yang bahkan bila di hitung begitu banyak waktu dan pengorbanan yang Ia lakukan untuk anaknya. Lalu apa yang pantas kita berikan pada ibu kita atas semua itu. Apakah cukup dengan memberinya hadiah di hari ibu? tentu tidak.

          Mengapa? Karena bentuk bakti kita terhadap orang-tua bukan hanya kita curahkan dan kita spesialkan pada hari ini saja, akan tetapi, haruslah kita spesialkan pada setiap detik yang kita punya sebagai bentuk rasa cinta kita kepadanya. Apalah arti baginya (ibu kita) satu hari yang spesial, yang mana kita berlaku begitu baik memanjakannya seperti layaknya ia memanjakan kita diwaktu kecil, namun pada hari-hari lain, tidak ada perlakuan khusus seperti itu.

          Menjadi Ibu pada hari ini tidaklah mudah. Terlebih dalam pandangan masyarakat sekarang, yang memandang sepele pekerjaan seorang ibu. Sosok ibu yang digambarkan “hanya” tinggal di dalam rumah, mengurus rumah dan anak, dan seorang ibu karir yang sering dijadikan kambing hitam ketika berbagai permasalahan anak muncul dalam keluarga.

          Tentu semua itu tidak bisa kita jadikan suatu anggapan yang benar terhadap sosok ibu. Sebagai orang yang berpendidikan sudah seharusnyalah kita mengangkat dan memandang ‘ibu’ sebagai ibu yang secara harfiah adalah orang yang melahirkan dan menjadi guru pertama dan utama kita.

          Dari seorang ibu yang hebatlah lahir orang-orang yang hebat di dunia, maka tepat jika ibu disebut sebagai pencetak generasi hebat di dunia.

          Terlepas dari berbagai aspek yang mengesampingkan pekerjaan dari seorang ibu. Yang perlu kita ingat bahwa ibu adalah pencetak generasi dunia, wanita lembut yang harus kita kasihi, karena pola asuh, pengajaran, kasih sayang dan do’anyalah kita dapat meraih kesuksesan dalam hidup.
"TERIMA KASIH UNTUK IBU DI SELURUH DUNIA"

           Alamat : Sukabumi, Perum Baros Kencana Blok 5 Jln Nilam raya N0 90
              Mahasiswi UPI Jurusan Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia 2009

1 komentar :

  1. luar biasa, tulisan anda benar-benar menggugah hati saya setelah 7 tahun tidak bertemu dengan perempuan mulia yang telah melahirkan saya. sosok seorang ibu bagi saya sangat mulia. kesimpulannya saya akan pulkam. thank's telah mengingatkan kita akan sosok seorang ibu dimana kita saat ini ketika telah dewasa lebih memikirkan dunia.

    BalasHapus